ALIRAN MATURIDIAH

  1. Munculnya Aliran Maturidiah

Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad al-maturidi lahir di Samarkand pada pertengahan kedua dari abad ke-9 M dan meninggal di tahun 944 M. tidak banyak diketahui mengenai riwayat hidupnya. Ia adalah pengikut Abu hanifah dan paham-paham teologinya banyak persamaannya dengan peham-paham yang dimajukan abu hanifah. Sistem pemikiran teologi yang ditimbulkan abu mansur termasuk dalam golongan ahli sunnah dan dikenal dengan nama al-maturidiah.

Literatur mengenai ajaran-ajaran abu mansur dan aliran maturidiah tidak sebanyak iteratur mengenai ajaran-ajaran asy’ariah. Buku-buku yang banyak membahas soal sekte-sekte seperti buku-buku al-syarhastani, ibn hazm, al-baghdadi dan lain-lain tidak memuat keterangan-keterangan tentang Al-Maturidi atau pengikut-pengikutnya. Karangan-karangan al-maturidi sendiri masih belum dicetak dan tetap dalam bentuk MMS (makhtutat).

Di antara MSS itu ialah kitab al-tahwid dan kitab ta’wil al-quran. Seterusnya ada pula karangan-karangan yang dikatakan disusun oleh al-maturidi yaitu risalah fi al-aqa’id dan syarh al-fiqh al-akbar. Keterangan-keterangan mengenai pendapat-pendapat al-maturidi dapat diperoleh ebih lanjut dari buku-buku yang dikarang oleh pengikut-pengikutnya seperti isyarat al-maram oleh al-bayadi dan usul al-din oleh al-bazdawi.Sebagai pengikut abu hanifah yang banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya, al-maturidi banyak pula memakai akal dalam sistem teologinya.Oleh karena itu antara teologinya dan teologi yang ditimbulkan oleh al-asy’ari terdapat perbedaan, sungguhpun keduanya timbul sebagai reaksi terhadap aliran mu’tazilah.1

Dalam soal sifat-sifat tuhanerdpat persamaan antar al-asy’ari dan al-maturidi. Baginya tuhan juga mempunyai sifa-sifat. Maka menurut pendapatnya, than mengetahui bukan karena dzat-nya, tepi mengetahui dengan pengetahuan-nya, dan berkuasa bukan karena zat-nya.

Tetapi dalam soal perbuatan-perbuatan manusia, al-matridi sependapat dengan golongan mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian ia mempunyai paham qadariah dan bukan paham jabariah atau kasb asy’ari.

Sama dengan asy’ari, Al-Maturidi menolak ajaran mu’tazilah tentang al-salah wa al-aslah, tetapi tidak disamping itu al-maturidi berpendapat bahwa tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. Al-maturidi juga tidak sepaham dengan mu’tazilah tentang masalah al-qur’an yang menimbulkan heboh itu. Sebagaimana al-asy’ari ia mengatakan bahwa kalam atau sabda tuhan tidak diciptakan, tetapi bersifat qodim.

Mengena soal dosa besar al-maturidi sepaham dengan al-asy’ari bahwa orang yang melakukan dosa besar masih tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan tuhan kelak di akhirat. Ia pun menolak paham posisi menengah kaum mu’tazilah.

Tetapi dalam soal al-wa’d wa al-wa’id al-maturidi sepaham dengan mu’tazilah. Janji-janji dan ancaman tuhan, tidak boleh tidak mesti terjadi kelak. Dan juga soal anthropomorphisme al-maturidi sealiran dengan mu’tazilah. Ia tidak sependapat dengan al-asy’ari bahwa ayat-ayat yang mengambarkan tuhan memppunyai bentuk jasmani tidak dapat diberi interpretasi atau ta’wil. Menurut pendapatnya, tangan, wajah dan sebagainya mesti diberi arti majazi atau kiasan.

Salah satu pengikut penting dari al-maturidi ialah abu al-yusr muhammad al-bazdawi (421-493 H). nenek al-bazdawi adalah murid dari al-maturidi, dan al-bazdawi mengetahui ajaran-ajaran al-maturidi dari orang tuanya. Al-bazdawi sendiri mempumyai murid –murid dan salah seorang dari mereka ialah najm al-din muhammad al-nasafi (460-537 H), pengarang buku al-‘aqa ‘idal-nasafiah.2

  1. GOLONGAN-GOLONGAN TEOLOGI AL-MATURIDIYAH
  1. Golongan Samarkand
    Yang menjadi golongan ini adalah pengikut-pengikut Al-Maturidi sendiri. Golongan ini cenderung ke arah faham Asy’ariyah, sebagaimana pendapatnya tentang sifat-sifat Tuhan. Dalam hal perbuatan manusia, maturidi sependapat dengan Mu’tazilah, bahwa manusialah yang sebenarnya mewujudkan perbuatannya. Al-Maturidi berpendapat bahwa Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.
    2. Golongan Bukhara
    Golongan ini dipimpin oleh Abu Al-Yusr Muhammad Al-Bazdawi. Dia merupakan pengikut Maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid Maturidi. Jadi yang dimaksud dengan golongan Bukhara adalah pengikut-pengikut Al-Bazdawi dalam aliran Al-Maturidiyah.
    Walaupun sebagai pengikut aliran Al-Maturidiyah, AL-Bazdawi selalu sefaham dengan Maturidi. Ajaran teologinya banyak dianut oleh umat islam yang bermazhab Hanafi. Dan hingga saat ini pemikiran-pemikiran Al-Maturidiyah masih hidup dan berkembang di kalangan umat islam.3
  1. SISTEM PEMIKIRAN

Untuk mengetahui sistem pemikiran al-maturidi, kita tidak bisa meninggalkan pikiran-pikiran al-asy’ari dan aliran mu’tazila, sebab ia tidak bisa terlepas dari suasana masanya. Baik al-asy’ari maupun al-maturidi keduanya hidup semasa dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu membendung dan melawan aliran mu’tazila perbedaannya ialah kalau asy’ari menghadapi negeri kelahiran aliran mu’tazilah yaitu Basrah dan Irak pada umumnya, Maka al-maturidi menghadapi aliran mu’tazila negerinya, yaitu Samarkand dan Iran pada umumnya, sebagai cabang kelanjutan aliran mu’tazilah Basrah yang mengulang-ulang pendapatnya.

Meskipun pendapat al-asy’ari dan al-maturidi sering berdekatan, karena persamaan lawan yang dihadapi, namun perbedaannya masih selalu ada. Menurut Syeh M.Abduh, perbedaan antara keduanya tidak besar, kurang lebih hanya dalam sepuluh masalah, yang bersifat perbedaan kata-kata. Menurut Ahmad amin masalah yang menjadi perbedaan tersebut tidak penting,seperti : Apakah sifat “baqa” itu sifat wujud atau bukan,”wujud” itu hakekat zat atau bukan,bgaimana hakekat iman dan apa bisa bertambah atau berkurang. Arti “qada” dan “qadar”, Iman kepada tuhan wajib dengan akal atau tidak, apakah jenis lelaki menjadi syarat kenabian atau tidak. Perbedaan – perbedaan itu bisa kita dapati setelah memperbandingkan buku-buku Ilmu Kalam menurut aliran asy’ariah dengan buku-buku aliran maturidiah, seperti “al-Aqidun nasafiah” karangan Najmuddin an-nasafi.

Boleh jadi perbedaan yang tidak begitu banyak ada pertaliannya dengan perbedaaan dasar-dasar madzab syafii yang dianut oleh imam al-asy’ari dan dasar-dasar madzab Abu Hanifah yang dianut oleh al-maturidi. Karena itu kebanyakan pengikut al-maturidi terdiri dari orang-orang madzab hanafi, sedang pengikut aliran asy’ariah terdiri dari orang-orang mazhab Syafii.

Berbeda dengan pendapat Syekh M. Abduh dan Ahmad Amin, maka Syekh Abu Zahra mengatakan bawa perbedaan antara al-asy’ariah dan al-maturidiah sebenarnya lebih jauh lagi, baik dalam cara berpikir maupun dalam hasil pemikirannya, karena al-maturidiah memberikan kekuasaan yang luas kepada akal lebih dari pada yang diberikan oleh al-asy’ari. Untuk jelasnya, di bawah ini disebutkan pendapat-pendapat al- maturidiah.

  1. Kewajiban mengetahui tuhan

Menurut al-Maturidi, akal bia mengetahui kewajiban untuk mengetahui tuhan, seperti yang diperintahkan oleh tuhan dalam ayat al-quran untuk menyelidiki alam, langit dan bumi. Akan tetapi meskipun akal semata-mata sanggup mangetahui tuhan, namun ia tidak sanggup mengetahui dangn sendirinya hokum-hukum taklifi (peritah-perintah tuhan), dan pendapat terakhir ini berasal dari Abu Hanifah.

Pendapat al-maturidi tersebut mirip dengan pendirian aliran mu’tazilah. Hanya perbedanya adalah kalau aliran mu’tazilah mengatakan bahwa pengetahuan tuhan itu diwajibkan oleh akal (artinya akal yang mewajibkan), maka menurut al-maturidiah, meskipun kewajiban mengetahui tuhan dapat diketahui akal, tetapi kewajiban itu sendiri datangnya dari tuhan.

  1. Kebaikan dan keburukan menurut akal

Al-Maturidi mengetahui adanya keburukan obyektif (yang terdapat pada sesuatu perbuatan itu sendiri) dan akal bisa mengetahui kebaikan dan keburukan sebagian suatu perbuatan. Seolah-olah mereka membagi sesuatu (perbuatan-perbuatan) kepada tiga bagian, yaitu sebagian yang dapat diketahui kebaikannya dengan akal semata-mata dan sebagian lagi yang tidak jelas kebaikan dan keburukannya bagi akal. Kebaikan dan keburukan bagian terakhir ini hanya bisa diketahui dengan melalui syara’.

Aliran mu’azila juga memiliki pembagian yang sama seperti yang dikutip dari al-jubbai, dimana ia mengatakan bahwa apa yang diketahui kebaikannya oleh akal oleh akal, harus dikerjakan berdasarkan perintah akal dan yang diketahui keburukannya harus ditinggalkan menurut keharusan akal. Al-maturidi tidak mengikuti abu hanifah, yaitu meskipun akal sanggup mengetahui, namun kewajiban itu datangnya dari syara’, karena akal semata-mata tidak daapat bertindak sendiri dalam kewajiban-kewajiban agama, sebab yang mempunyai taklif(mengeluarkan perintah agama) hanya tuhan sendiri

Pendapat aliaran al-maturidi teersebut tidak sesuai dengan pendapat al-asy’ari yang mengatakan bahwa sesuatu tidak mempunyai kebaikan atau keburukan objaktif (zati) melainkan kebaikan itu ada karena adanya perintah syara’. Jadi kebaikan dan keburukan itu tergantung kepada tuhan. Dengan demikian, ternyata bahwa pemikiran-pemikiran al-maturidi berada di tengah-tengah antara pendapat aliran mu’tazila dan al-asy’ariah.

  1. Hikmah dan tujuan perbuatan Tuhan

Menurut aliran asy’ariah, segala perbuatan tuha tidak bisa ditanyakan mengapa, artinya bukan karena hikmah atu tujuan, sedangmenurut aliran mu’tazila sebaliknya, karena tuhan tdak mungkin mengerjakan sesuatu yang tidak ada gunanya. Kelanjutannya ialah bahwa tuhan harus(wajib) merperbuat yang baik dan yang terbaik.

Menurut al-maturidi, memang benar perbuatan tuhan mengandung kebijaksanaan(hikmah), baik dalam cipta-ciptaannya maupun dalam perintah dan larangannya, tetapi perbuatan tuhan tersebut tidak karena paksaan. Karena tidak bisa dikatakan wajib, karena kewajiban itu mengandung suatu perlawanan dengan iradahnya.

Sebenarrnya perbedaan al-maturidiah dengan aliran mu;tazila hanya perbedaan kata-kata (istilah) sekitar penggunaan perkataan “wajib”, sedang inti persoalannya sama, yaitu bahwa keduanya mengakui adanya tujuan pada perbuatan tuhan. Aliran maturidi menurut pandangan para pembahasan theology islam, masih termasuk golongan ahlussunah.

Kalau kita perbandingkan aliran-aliran theology islam dan kita urut-urutkan menurut kebebasan pemikiranya, maka dapat diurutkan sebagai berikut :

Aliran mu’tazil kemudian aliran maturidiah, kemudian lagi aliran asy’ariah, dan yang terakhir ialah ahlulhadist.4

  1. DOKTRIN-DOKTRIN TEOLOGI AL-MATURIDIYAH
  1. Akal dan Wahyu
    Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya berdasarkan pada Al-Qur’an dan akal, akal banyak digunakan diantaranya karena dipengaruhi oleh Mazhab Imam Abu Hanifah. Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya untuk memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadapAllah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaan-Nya. Jika akal tidak memiliki kemampuan tersebut, maka tentunya Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti ia telah meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh ayat-ayat tersebut Namun akal, menurut Al-Maturidi tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban yang lain.
    Dalam masalah amalan baik dan buruk, beliau berpendapat bahwa penentu baik dan buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti kemampuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu, walau ia mengakui bahwa akal terkadang tidak mampu melakukannya. Dalam kondisi ini, wahyu dijadikan sebagai pembimbing.
    Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu :
    Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu,
    Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu,
    Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk wahyu.
    Tentang mengetahui kebaikan dan keburukan Maturidiyah memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah, namun tentang kewajiban melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan Maturidiyah berpendapat bahwa ketentuan itu harus didasarkan pada wahyu.
    2. Perbuatan Manusia
    Perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaan-Nya. Mengenai perbuatan manusia, kebijaksanaan dan keadilan kehendak Allah mengharuskan manusia untuk memiliki kemampuan untuk berbuat (ikhtiar) agar kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan. Dalam hal ini Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar manusia dengan qudrat Allah sebagai pencipta perbuatan manusia. Allah mencipta daya (kasb) dalam setiap diri manusia dan manusia bebas memakainya, dengan demikian tidak ada pertentangan sama sekali antara qudrat Allah dan ikhtiar manusia.
    Dalam masalah pemakaian daya ini Al-Maturidi memakai faham Imam Abu Hanifah, yaitu adanya Masyiah (kehendak) dan ridha (kerelaan). Kebebasan manusia dalam melakukan perbuatan baik atau buruk tetap berada dalam kehendak Allah, tetapi ia dapat memilih yang diridhai-Nya atau yang tidak diridhai-Nya. Manusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan Allah, dan Manusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan Allah, dan berbuat buruk pun dengan kehendak Allah, tetapi tidak dengan kerelaan-Nya3.
    3. Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan
    Penjelasan di atas menerangkan bahwa Allah memiliki kehendak dalam sesuatu yang baik atau buruk. Tetapi, pernyataan ini tidak berarti bahwa Allah Allah berbuat sekehendak dan sewenang-wenang. Hal ini karena qudrat tidak sewenag-wenang (absolute), tetapi perbuatan dan kehendak-Nya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya sendiri. 

    4. Sifat Tuhan
    Tuhan mempunyai sifat-sifat, seperti sama, bashar, kalam, dan sebagainya. Al-Maturidi berpendapat bahwa sifat itu tidak dikatakan sebagai esensi-Nya dan bukan pula lain dari esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu mulzamah (ada bersama/inheren) dzat tanpa terpisah (innaha lam takun ain adz-dzat wa la hiya ghairuhu). Sifat tidak berwujud tersendiri dari dzat, sehingga berbilangnya sifat tidak akan membawa kepada bilangannya yang qadim (taadud al-qadama).
    Tampaknya faham tentang makna sifat Tuhan ini cenderung mendekati faham Mu’tazilah, perbedaannya terletak pada pengakuan terhadap adanya sifat Tuhan.
    5. Melihat Tuhan
    Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, hal ini diberitakan dalam Al-Qur’an, surat Al-Qiyamah ayat 22 dan 23
    Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata, karena Tuhan mempunyai wujud walaupun ia immaterial. Namun melihat Tuhan, kelak di akhirat tidak dalam bentuknya, karena keadaan di sana beda dengan dunia.

6. Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam (baca:sabda) yang tersusun dengan huruf dan bersuara denagn kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadits). Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya dari bagaimana Allah bersifat dengannya, kecuali dengan suatu perantara.

Maturidiyah menerima pendapat Mu’tazilah mengenai Al-qur’an sebagai makhluk Allah, tapi Al-Maturidi lebih suka menyebutnya hadits sebagai pengganti makhluk untuk sebutan Al-Qur’an.
7. Perbuatan Tuhan
Semua yang terjadi atas kehendak-Nya, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan, kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri. Setiap perbuatan-Nya yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya.
Hukuman atau ancaman dan janji terjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya.
8. Pengutusan Rasul
Pengutusan Rasul berfungsi sebagai sumber informasi, tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan oleh rasul berarti manusia telah membebankan sesuatu yang berada di luar kemampuan akalnya., yaitu bahwa pengutusan rasul kepada umat adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik bahkan terbaik dalam hidupnya.
9. Pelaku Dosa Besar (Murtakib Al-Kabir)
Al-Maturidi berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang musyrik.5

1Nasution, Harun. Teologi islam. uin press, 2008. Hal 76-78.

2 Nasution, Harun. Teologi islam. uin press, 2008. Hal 78.

3 Rozak, Abdul dan Rosihon Anwar,2009 Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung.

4 A.Hanafi, M.A. Pengantar Ilmu Teologi Islam, PT.AL Husnah Zikhra, Jakarta, 1980, hal 133-135.

5 Muhammad, Imam, Abu Zahra, 1996, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Jakarta selatan: Logos Publishing House,hlm 218.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: